Sahabatku..
sungguh menarik bila kita, mampu untuk bertafakur sejenak
tentang pesona alam disekitar kita
Maha Suci ALLAH
yang telah menjadikan makhlukNYA (bumi), untuk berputar pada porosnya
dan mengelilingi makhlukNYA yang lain (matahari), sesuai pada sumbunya
dan perputaran itu teratur, bahkan bumi adalah satu-satunya makhluk ALLAH yang dapat dihuni oleh manusia
dari sekian banyak makhlukNYA
Sahabatku..
namun bukan hal itu, yang ingin menjadi topik kali ini
tapi sebuah pesona yang terkadang kita melupakannya, sehingga kita tidak percaya pada pembuktian-pembuktian ALLAH yang selanjutnya
JANTUNG dan DARAH
pernahkah kita bertafakur, dengan apa yang ada pada tubuh kita
Sahabat
beberapa artikel yang saya baca, tentang seberapa cepatnya DARAH ini bergerak
dan seberapa kuatnya daya pompa yang dihasilkan oleh JANTUNG kita
ternyata pada sebuah artikel itu ditulis, bahwa JANTUNG ini dapat memompa DARAH 5,5 liter permenitnya
SUBHANALLAH, Luar Biasa bukan
lalu berapa perjamnya
maka hasilnya adalah
330 liter perjam
Sahabatku
betapa hebatnya JANTUNG kita dalam kondisi normal
dan coba kita bertafakur tentang kecepatan DARAH
maklum saya tidak menemukan artikel tentang kecepatan darah
jika diseach di google, maka hasil yang ditemukan adalah
yang telah saya jelaskan diawal
namun intinya.
PASTI
bahwa kecepatan DARAH kita, lebih cepat dari pada benda tercepat dibumi, dan bila sudah ada benda tercepat yang mengalahkan kecepatan DARAH, maka benda itu tetap saja
masih kalah dengan ALLAH
karena RABB Yang Maha Suci, telah membuktikan kecepatan itu sebelumnya
yaitu ketika Mi'rajnya Rasulullah
menuju Sidratul Muntaha
SUBHANALLAH bukan..
oleh sebab itu "sebuah pesona yang terkadang kita melupakannya, sehingga kita tidak percaya pada pembuktian-pembuktian ALLAH yang selanjutnya" kalimat ini tertulis diawal.
Selengkapnya...
Selasa, 01 Februari 2011
JANTUNG dan DARAH
Nikmatnya Masalah
Apa yang kita rasakan ketika kita mendapatkan sebuah masalah, ya…masalah. Karena setiap manusia pasti mempunyai masalah, tidak ada satupun makhluk Allah di muka bumi ini yang tidak mempunyai masalah. Ayam saja yang mungkin sering kita santap bisa merasakan stress karena masalah, tapi jangan lantas kita bayangkan masalah ayam sama dengan masalah manusia.
Namun demikian, bagaimana kita menghadapi setiap permasalahan itu. Adakah dari kita yang menganggap suatu masalah itu sebagai sebuah kenikmatan, ataukah malah kita menganggap bahwa masalah yang pelik adalah sebagai sebuah musibah. Ya kebanyakan dari kita adalah menganggap suatu masalah itu adalah sebagai sebuah musibah, hal itu tidak bisa kita pungkiri bahkan saya sendiripun terkadang sering merasakan demikian. Padahal jauh dari situ masalah adalah sebuah kenikmatan, tapi bagaimana bisa masalah yang mendera kita kok di bilang sebagai sebuah kenikmatan?
Bagaimana bisa ketika seseorang ditimpa masalah hutang yang teramat besar adalah sebuah kenikmatan, atau bagaimana bisa ketika kita ditimpa masalah dengan mendapatkan nilai kuliah/sekolah yang teramat jelek itu adalah sebuah kenikmatan, atau bagaimana mungkin ketika kita diputuskan oleh sang pacar adalah sebuah kenikmatan?
Coba kita bayangkan dan sedikit melirik kebelakang, ketika kita didera sakit yang hebat apa yang diucapkan? Ya kita banyak menyebut nama Allah, kita banyak beristigfar karena dengan demikian kita merasa dekat serta kita merasa tentram dengannya. Ketika kita didera hutang yang banyak, maka kita kadang merasa lebih dekat dengan Allah dan porsi meminta kepada Allah lebih intens serta lebih banyak ketimbang hari biasanya, pun demikian ketika kita mendapatkan nilai yang jelek, maka yang terucap pertama kali adalah kata “astagfirullah” karena secara tidak sadar bahwasanya diri ini refleks sadar akan kesalahan serta akan meminta lebih banyak kepada Allah dan juga akan lebih mendekatkan diri kepadaNya. Demikian juga ketika diputuskan pacar, kita akan lebih mendekat lagi kepada Allah serta akan lebih tekun dalam berdo’a bahkan mungkin sambil menangis agar diberikan pasangan yang lebih baik.
Maka tidak salah ketika Ust. Yusuf Mansur menuliskan “Masalah adalah suatu kenikmatan”, karena memang dalam masalah itu kita bisa lebih mendekatkan diri dengan Allah, kita lebih intens menghampiriNya dengan seabrek permintaan, dengan seabrek keluh kesah. Karena memang demikianlah sifat manusia, ia akan ingat Sang Maha Penciptanya kala dihimpit masalah, namun kala lapang kadang malah melupakanNya. Namun demikian maka bersyukurlah kala masalah menghampiri, mungkin Allah sedang sayang kepada kita makanya Allah memberikan masalah itu kepada kita, agar kita ingat kepadaNya.
Ingatlah sahabat bahwasanya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Boleh jadi apa yang kita anggap buruk itu adalah yang terbaik untuk kita, dan boleh jadi apa yang kita anggap baik malah itu adalah hal terburuk untuk kita, karena Allah Maha Tahu dan manusia tidak tahu. Jadi, syukuri ketika masalah itu mendera kita, karena dengannya lah kita bisa lebih merasakan kedekatan dengan Sang Pemilik Solusi, ingatlah bahwa masalah dunia itu sangat kecil dihadapan kita. Yang mesti kita waspadai adalah ketika Allah sudah tidak menyayangi kita lagi, karena ciri-ciri Allah menyayangi kita adalah dengan memberikan cobaan kepada setiap hambaNya agar kita semua terus ingat kepadaNya.
Selamat menikmati setiap masalah, selamat menikmati indahnya kebersamaan denganNya. Semoga Allah senantiasa memberikan solusi pada setiap permasalahan kita semua, semoga Allah senantiasa memberikan rasa syukur yang tak terhingga, semoga Allah senantiasa ridho atas semua yang kita kerjakan. Karena sesungguhnya Allah Maha Tahu atas segala apa yang ada di bumi dan dilangit, serta apa yang ada dalam hati serta lintasan pikiran setiap hambaNya.
Sekali lagi selamat menikmat hidangan Allah yang tak terhingga yang berupa “jamu” masalah.
Selengkapnya...
Cerita Cinta Sang Pejuang
Nama Salman Al Farisi tak asing lagi dalam deretan para pejuang dan pembela agama Allah. Ketakwaannya pun disegani di antara kaum muslimin. Keimananya yang begitu mendalam bahwa hanya Allah yang Maha Besar, sementara yang lain begitu kecil di hadapannya. Demikian juga sikapnya menghadapi masalah-masalah yang bersifat keduniaan, termasuk urusan cinta.
Dikisahkan, Salman Al Farisi hendak melamar seorang gadis. Sebagai manusia biasa yang memiliki fitrah cinta, ia jatuh hati pada seorang muslimah shalihah asli penduduk kota Madinah. Maksud suci ini kemudian ia sampaikan kepada Abu Darda’, seorang saudara yang dipertemukan atas nama aqidah.
Abu Darda’ bahagia menyambut keinginan Salman. Ia bergegas mengantarkan saudaranya ini untuk menemui wali dari sang gadis.
“Perkenalkan Saya adalah Abu Darda’, dan ini adalah saudara saya Salman yang berasal dari Parsi. Allah telah memuliakannya dengan Islam dan dia juga telah memuliakan Islam dengan amal dan jihadnya. Dia memiliki kedudukan yang utama di sisi Rasulullah, bahkan ia diberi kehormatan sebagai ahlul bait-nya. Saya datang untuk mewakili saudara saya ini melamar putri Anda,” ucap Abu Darda’ menyampaikan maksud dan tujuan.
Lamaran itu bersambut, “Kami merasa mendapatkan kehormatan menerima tamu dua sahabat Rasulullah yang mulia. Menjadi kehormatan pula bagi keluarga kami jika dapat memiliki seorang menantu dari salah satu sahabat Rasul yang agung. Akan tetapi, kami serahkan sepenuhnya jawaban dari lamaran ini pada putri kami.”
Setelah berdiskus, Ibu dari sang putri pilihan Salman itu mewakili untuk menjawab. “Mohon maaf sebelumnya jika apa yang kami sampaikan kurang berkenan. Dengan tetap mengharap ridha Allah, putri kami menolak lamaran Salman,” jawab sang Ibu.
Belum lagi Salman merespon jawaban itu, Sang Ibu melanjutkan perkataannya. “Akan tetapi, jika Abu Darda’ mempunyai niat yang sama untuk melamar putri kami, maka kami akan menerimanya,” katanya sang ibu.
Wajar bila Salman kecewa. Kekecewaan yang berlipat. Karena tak hanya niat mempersunting sang putri ditolak, namun kenyataannya justru saudara yang diajak membantu melamar malah yang dikehendaki untuk menikahi sang putri. Kebesaran hati Salman sedang diuji.
”Allahu Akbar!” ujar Salman mencuba meluapkan isi hatinya.
”Semua mahar dan nafkah yang kupersiapkan ini akan aku serahkan pada Abu Darda’, dan aku akan menjadi saksi pernikahan kalian,” lanjutnya tanpa ragu.
Menakjubkan. Kekecewaan Salman berujung keikhlasan tiada tara. Salman Al Farisi dengan ketakwaannya yang memuncak memberikan pelajaran tentang sebentuk kesedaran. Kesedaran bahwa cinta yang diinginkan tak selalu bisa dimiliki. Kesedaran tentang bagaimana semestinya menyingkapi rasa cinta yang Allah hendaki untuk kita.
Salman telah mengajarkan, sebagai pejuang, kita harus menjadi majikan cinta, bukan budaknya. Kita harus mampu mengendalikan nafsu dan perasaan, bukan dikendalikannya. Sungguh indah bila mana cinta dan nafsu itu ditunggang dengan keimanan yang tiada taranya kepada Allah dan Rasulnya.
Dan semoga kita bisa, mendapatkan yang terbaik, dipilih Allah untuk menjadi teman di dunia untuk berjuang dalam agamanya dan akhirat menjadi ketua bidadari bagi seorang lelaki penghuni syurga.
Wallahu a'lam bish shawab
Selengkapnya...